Siapkah Keperawatan Indonesia Menghadapi Pasar Bebas??

Beberapa hari lalu saya berbincang-bincang dengan teman-teman di kampus mengenai perdagangan bebas yang akan menghampiri Indonesia, dan sedikit membayangkan bagaimana kondisi keperawatan Indonesia nantinya bila “kebebasan” tersebut benar-benar telah datang.

Ketua AIPNI Prof Elly menjelaskan, keperawatan merupakan profesi yang memiliki masa depan cerah dan menjanjikan. Karena itu, profesionalisme keperawatan perlu ditumbuhkan sejak dini, agar tenaga perawat lebih percaya diri dalam memberikan pelayanan terhadap klien.

namun cukupkah hanya dengan meningkatkan profesionalisme keperawatan Indonesia di tengah-tengah ketidakjelasan nasib RUU keperawatan, dapat mengamankan kondisi keperawatan Indonesia dalam pasar bebas nanti??

Jepang saja sudah mulai siap-siap memproteksi perawat lokal di negaranya dengan menerbitkan peraturan-peraturan yang relatif menyulitkan perawat asing untuk bisa bekerja disana, yaitu keharusan bagi seorang perawat untuk bisa menggunakan tulisan kanji di sana, padahal tidak semua Jepang bisa memahami dan menggunakan tulisan kanji dengan baik.

sedikit cerita mengenai Jepang di atas menggambarkan bahwa masing-masing negara perlu membuat semacam mekanisme perlindungan untuk memproteksi tenaga kerja lokal mereka, dalam hal ini tenaga perawat.  Lalu pertanyaannya adalah sudahkah keperawatan Indonesia menyiapkan hal itu, sudahkah perawat lokal Indonesia terlindungi dari tenaga perawat asing yang kualitas pebelajarannya melebihi standar kualitas pendidikan keperawatan di Indonesia?? Apakah Bahasa Indonesia sudah menjadi keharusan bagi perawat asing untuk bisa bekerja di Indonesia, atau berbagai mekanisme perlindungan lain yang sifatnya lokal??

Ada yang punya ide atau pendapat mengenai mekanisme proteksi macam apa yang bisa kita terapkan di Indonesia?? Silahkan kirim komentar ya..

=>

3 thoughts on “Siapkah Keperawatan Indonesia Menghadapi Pasar Bebas??

  1. Dear Mas Doni,

    Proteksi yang terbaik bagi kita para perawat adalah dengan meningkatkan knowledge, skill, attitude dan penguasaan bahasa asing. Saran saya adalah kita harus punya satu keahlian khusus agar bisa bersaing. Dalam dunia kerja, pemenang kompetensi bukan orang yang serba bisa tapi sering kepada orang yang ahli dalam bidang tertentu. Contohnya yah perawat ahli emergency, perawat ahli bedah, dll.
    Saat ini saya masih bekerja di perusahaan oil and gas, yang diperlukan adalah perawat yang ahli di bidang emergency, karena area kerja perusahaan oil and gas seringkali di daerah offshore dan juga di daerah pedalaman, dimana akses ke pelayanan kesehatan sangat jauh atau susah.

    Saya yakin kalau kita product knowledge yang bagus, skill yang mumpuni, attitude yang baik dan penguasaan bahasa asing, maka kita seharusnya tidak perlu takut untuk bersaing.
    Dilihat dari potensi peluang kerja perawat di luar negeri, seharusnya kita bisa menjadi pemenang dalam mendapatkan akses kerja di luar negeri, karena tenaga kerja perawat sangat banyak di indonesia. Namun untuk mencapai titik dimana kita di akui oleh dunia luar, harus dimulai oleh institusi penyelenggara pendidikan dan juga kemauan untuk belajar para siswa perawatnya.
    Dimulai dari sekarang kita harus sama2 berjuang yang pertama adalah berjuang untuk diri kita sendiri yaitu dengan belajar dengan sungguh2, berusaha untuk meningkatkan ilmu dan skill kita. Dan perjuanagan yang kedua adalah demi profesi kita, yaitu kita sama2 mengawal lahirnya UU keperawatan bersama dengan organisasi profesi (PPNI) karena UU ini mutlak harus ada demi payung hukum dan kejelasan profesi perawat. Bagaimana perawat indonesia mau di akui dunia kalau Di Indonesia sendiri belum diakui (Pengakuan secara resmi harus melalui undang2 yang mengatur profesi perawat)
    Mungkin itu sedikit pemikiran dari saya, Mohon teman2 perawat memberikan ide dan masukan demi majunya profesi perawat.
    Makasih

  2. Assalamualaikum om.
    haha lagi buat artikel soal profesi kesehatan eh nyasar ke blog si om..

    nice blog, pengen dah dibautin blog yang bagus. blog gue tampilannya ga oke dan berkali-kali gue bikin blog kaga ada yang permanen dah.
    *lah ini jadi curhat. haha..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *