Skip to content

Ramadoni.com

Web, Photography, and Ramadoni's Life Journal

Archive

Tag: perawat

Kaget dan lumayan sedih membaca tiga komentar terakhir di salah satu postingan di PerawatOnline.com, mulai muncul perawat yang sudah tidak lagi bangga pada profesi mulianya. Ada yang menghitung-hitung secara finansial, ada pula yang mengeluh karena tugas berat menjadi seorang perawat. selengkapnya...

banner-mnd-copyIslam merupakan agama universal yang dapat mengatur segala lingkup kehidupan manusia, tidak hanya dari sisi spiritual Islam juga dapat diterima dalam urusan dunia, itulah mengapa Islam disebut agama yang universal. Namun ternyata konsep ini masih belum merasuk ke dalam jiwa keperawatan di Indonesia, masih terlalu sedikit tindakan-tindakan keperawatan yang memperhatikan nilai-nilai Islam, padahal mayoritas perawat adalah Muslim. Contoh yang paling sederhana adalah bersentuhannya perawat dengan klien lain jenis yang bukan muhrimnya, namun apakah ini menjadi sorotan dan bahasan di tengah-tengah hiruk pikuknya kegiatan akademik perawat?? selengkapnya...

Tulisan kali ini memberikan sebuah contoh kasus yang kemudian akan menggambarkan bagaimana seorang perawat membuat sebuah rencana asuhan keperawatan untuk menangani kasus tersebut.

Kasus:

Ny.G, seorang wanita berusia 75 tahun, masuk di unit bedah dari ruang pemulihan setelah pemasangan pen pada pinggulnya. Riwayatnya menunjukkan bahwa Ny.G tinggal sendirian di sebuah apartemen. Suaminya meninggal 10 tahun lalu, Ny.G mempunyai banyak teman dan terlibat dalam kegiatan komunitas lansia. Beliau suka jalan-jalan dan naik sepeda. Kali ini dia masuk RS karena jatuh dari sepeda. Program medis pascaoperasi untuk Ny.G adalah sebagai berikut.

  • Kateter Foley untuk drainase berat jenis
  • D52% NaCl dengan KCl 20 mEq untuk diinfuskan selama 8 jam
  • Morfin sulfat 1-2 mg, bolus IV, setiap 15 menit sampai nyaman, maksimum 10 mg dalam 1 jam.
  • Morfin sulfat 6-8 mg, IM setiap 3-4 jam, bila nyeri.
  • Phenergan 25 mg IM setiap 4-6 jam, bila mual.
  • Darah perifer lengkap (DPL) dan elektrolit besok pagi.
  • Trapeze di atas kepala tempat tidur.
  • Balikkan klien ke sisi tubuh yang tidak sakit setiap 1-2 jam.
  • Matras pengurang tekanan diletakkan di atas tempat tidur untuk mengurangi tekanan pada daerah penonjolan tulang.
  • Ambulasi klien dengan bantuan pada pagi hari dan kemudian empat kali sehari.

Pengkajian

Pukul 16.00 – pengkajian awal yang dilakukan oleh perawat setelah klien kembali dari ruang pemulihan menunjukkan bahwa klien tidur dengan nyaman, tanda vital dalam batas normal, dan balutan operasi kering dan utuh, Keteter Foley mengeluarkan urine berawarna kuning. Tetesan infuse sesuai dengan jumlah yang diresepkan; kulit hangat dan kering.

continue reading…

Beberapa hari lalu saya berbincang-bincang dengan teman-teman di kampus mengenai perdagangan bebas yang akan menghampiri Indonesia, dan sedikit membayangkan bagaimana kondisi keperawatan Indonesia nantinya bila “kebebasan” tersebut benar-benar telah datang.

Ketua AIPNI Prof Elly menjelaskan, keperawatan merupakan profesi yang memiliki masa depan cerah dan menjanjikan. Karena itu, profesionalisme keperawatan perlu ditumbuhkan sejak dini, agar tenaga perawat lebih percaya diri dalam memberikan pelayanan terhadap klien.

namun cukupkah hanya dengan meningkatkan profesionalisme keperawatan Indonesia di tengah-tengah ketidakjelasan nasib RUU keperawatan, dapat mengamankan kondisi keperawatan Indonesia dalam pasar bebas nanti?? continue reading…

Selama lebih dari tiga tahun saya menjadi mahasiswa keperawatan di salah satu universitas negeri di Pulau Jawa, sudah tidak terhitung berapa kali dialog seperti ini terjadi:

Somebody       : Hai Don, apa kabar? Kuliah sekarang? ambil jurusan apa?

Doni                 : hai juga, Alhamdulillah baik, iya sekarang kuliah, di keperawatan

Somebody       : hah?Keperawatan?Kok bisa?? Tanggung banget, kok gak Kedokteran sekalian?

Doni                 : Tanggung?? Maksud Loe??

Dialog seperti ini kerap datang manakala saya bertemu dengan teman-teman lama sewaktu SMP maupun teman-teman SMA yang baru mengetahui pilihan jurusan pada tes SPMB waktu itu.

Bukan tanpa alasan mereka bertanya demikian, dan bukan maksud hati pula saya menyombongkan diri karena sebagian besar teman-teman lama saya beranggapan bahwa seorang Doni lebih “pantas” menjadi seorang dokter kelak ketimbang menjadi perawat, sebuah pemikiran yang dapat kita maklumi manakala sebuah profesi dianggap lebih rendah ataupun lebih tinggi dibandingkan dengan profesi lain.

continue reading…

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes