Mendapatkan Foto Pre-Wedding yang Sempurna

IMG_1240resizeTerdengar berlebihan memang ketika saya mengambil kata “sempurna” apalagi saya yang notabenenya adalah fotografer pemula yang hasil karyanya masih jauh dari kata “sempurna” itu sendiri. Postingan kali ini saya ingin berbagi mengenai pengalaman saya dalam melakukan pemotretan pre-wedding.

Begitu banyak sumber tips dan trik yang bisa kita temukan di ranah daring yang hampir tanpa batas ini, dan saya tidak ingin mengulang pembahasan yang telah banyak dan dapat pembaca temukan dengan mudah lewat mbah google. dari sekian banyak pemotretan pre-wedding yang saya lakukan, saya akui pemotretan terakhir (berlokasi di UI) merupakan sesi pemotretan yang paling saya sukai, kenapa?? karena dengan puas saya bisa bereksplorasi dan bereksperimen dalam memotret, belum lagi ditambah model yang secara fisik merupakan pasangan yang serasi dan bagus dijadikan model.

Pemotretan kali ini dilakukan setelah Dzuhur sekitar pukul 12.30, dan matahari benar-benar menjadi lawan terberat saya karena selain panas yang membuat pasangan modelnya gak betah juga menimbulkan over-lighting bila saya menggunakan shutterspeed kesukaan saya, 1/100. Lalu pembaca mungkin bertanya-tanya, ngapain foto-foto di tengah hari bolong begitu?? karena sebetulnya lokasinya mendadak berubah yang sebelumnya di samping sungai ciliwung di daerah citayam-depok. Nah kalo ditanya kenapa berubah lokasinya bakal makin panjang postingan ini dan mungkin menjadi tidak menarik untuk dibaca.IMG_1182resize

sebelum melakukan pemotretan terlebih dahulu saya memberikan pengarahan kepada klien saya lengkap dengan majalah pernikahan sebagai alat bantunya, alasan menggunakan majalah pernikahan adalah: 1. banyak contoh yang bisa diambil sebagai inspirasi dan ditambah sedikit modifikasi biar gak nyontek-nyontek amat posenya, hehe 2. dengan menggunakan majalah klien menjadi lebih mudah memahami pose apa yang fotografer inginkan, sehingga dalam mengarahkan akan lebih cepat.

yang perlu diperhatikan dalam memotret pasangan calon pengantin yang belum pernah melakukan pemotretan sebelumnya adalah: 1. bangun suasana keakraban yang sangat baik, biar klien gak malu-malu lagi saat dipoto, 2. sebelum melakukan pemotretan berikan arahan dan selalu perlihatkan contoh pose apa yang kita inginkan secara visual, karena saya merasakan verbal saja tidak cukup efektif dalam mengarahkan orang yang tidak biasa dipotret. 3. Jangan menertawakan klien bila ada pose yang terasa janggal, cukup senyum dan dekati kedua klien untuk membetulkan posisi mereka, dan yang terakhir 4. Selalu berikan respon positif setelah menyelesaikan satu posisi, agar kepercayaan diri klien tumbuh dan itu sangat memudahkan fotografer dalam melakukan pemotretan selanjutnya.

Nah supaya masalah lokasi yang saya hadapi tidak terulang, maka diharapkan sehari sebelum pemotretan melakukan survey lokasi dan pastikan kondisi lokasi sesuai dengan yang kita sebagai fotografer harapkan.

semoga bermanfaat..krisna-rohmat

9 thoughts on “Mendapatkan Foto Pre-Wedding yang Sempurna

  1. Nice article.. 🙂
    Jadi inget pertama kali dipercaya jadi fotografer pre-wedding temans kantor dan dia memilih di lokasi UI (kebetulan temans kantor & pasangan = alumni UI).
    Dan aku menyarankan untuk bisa ambil foto dipagi hari, karena (menurutku) cahaya di pagi hari lebih “indah” dan masih “ramah” terhadap kamera & model 🙂
    Tetap semangatt 🙂

  2. manteppp gan, salam kenal, klo ngg keberatan ane boleh minta alamat lengkap nye kg, .?? biar bisa silaturahim lebih jauh lg, thx, .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *