Manfaat Buku Digital Bagi Penulis dan Pembaca, sebuah reportase

Ceritanya sudah cukup lama saya tidak menengok email yang saya gunakan untuk berlangganan milis Komunitas Blogger Depok (deblogger). Akhirnya Jum’at, 28 Juni 2013 lalu saya membuka email tersebut lalu segera menengok milis deblogger, rupanya ada satu thread menarik yang merupakan undangan untuk menghadiri sebuah seminar dan FGD bertema “Manfaat Buku Digital Bagi Penulis dan Pembaca” yang diselenggarakan oleh Qbaca Telkom dan FLP (Forum Lingkar Pena). Tanpa berpikir panjang langsung saja saya sambut thread undangan tersebut, karena akhir-akhir ini saya sangat tertarik dengan dunia buku dan kepenulisan sejak bergabung dengan tim writinc.

Keesokan harinya adalah saat acaranya berlangsung, saya tiba pukul 09.45 WIB di auditorium Pusat Studi Jepang UI. Segera saja saya ke meja registrasi dan mendaftarkan diri sebagai undangan dari  Komunitas Blogger Depok (deblogger). Tak lama berselang saya akhirnya berhasil bertemu dengan Om Unggul Sagena yang juga menjadi “utusan” dari deblogger, setelah sekian lama berinteraksi di dunia online dan baru kali ini berkopi darat ria :D. Selain itu, saya juga bertemu om Yons Ahmad selaku ketua panitia acara tersebut yang sekaligus mengundang saya dan om Unggul lewat milis deblogger.

IMG-20130629-00138

dari ki-ka: Moammar Emka (penulis), Iyut Syifa (publisis buku), Intan Savitri (ketua FLP), Andriansyah (Qbaca Telkom), DR. Ruli Nasrullah (Doktor budaya cyber UGM)

Sekitar pukul 10.00 WIB acara dimulai, dengan format talkshow acara pun dimulai dengan santai dan tidak kaku namun tetap terarah sesuai dengan tema seminar yang diangkat. Pak Andriansyah dari Qbaca Telkom menjadi moderator dalam talkshow tersebut dan beliau membuka dengan pertanyaan kepada Intan Savitri selaku ketua FLP, “apa sih yang menjadi isu paling besar bagi penulis saat ini?”. Kemudian Intan menjawab dengan cukup panjang yang menurut saya intinya adalah para penerbit mayor kebijakannya dinilai kurang fleksibel sehingga membuat para penulis kesulitan supaya naskahnya diterima oleh penerbit mayor. Moammar Emka kemudian menambahkan, penerbit itu merupakan industri dan masing-masing dari mereka punya strategi bisnis yang berbeda-beda jadi penulis harus tahu dan paham apa yang diinginkan oleh masing-masing penerbit supaya tulisannya memiliki peluang yang lebih besar untuk diterima oleh penerbit.

Kemudian moderator beralih bertanya kepada Dr. Ruli mengenai pengaruh buku digital di masyarakat Indonesia secara umum. Menurut Dr.Ruli buku digital di Indonesia masih sangat “menguntungkan” masyarakat Indonesia dan bisa membuat masyarakat Indonesia menjadi semakin ogah membeli buku cetak. Selain itu buku digital juga membuat harga buku di Indonesia menjadi semakin murah serta profesi editor tetap di penerbit-penerbit juga akan menghilang dan tergantikan dengan editor-editor lepas yang tidak terikat dengan salah satu penerbit.

Namun, masih menurut Dr. Ruli, perkembangan buku digital di Indonesia bukan tanpa hambatan, menurut beliau buku digital diperkirakan akan mulai familiar secara luas di Indonesia sekitar 4 – 5 tahun mendatang, karena masih terhambat dengan belum membudayanya membaca buku dengan menggunakan perangkat digital. Iyut pun menambahkan bahwa “romantika” membaca buku cetak juga sampai sekarang masih belum tergantikan oleh buku digital, contohnya: sensasi mebalikkan halaman kertas, memberi batas bacaan dengan melipat kertas di halaman tertentu, dan lain-lain.

Dibahas juga di forum ini mengenai hak cipta penulis dan penerbit yang rentan dilanggar di dunia maya, dan hal itu juga yang menjadi penghambat buku digital untuk dilirik penerbit sebagai salah satu pilihan format publikasi hasil karya tulisan yang bisa dijual ke Masyarakat.

Setelah sesi talkshow selesai, acara dilanjutkan dengan istirahat makan siang dan sholat. Setelah itu masuk ke sesi focus group discussion yang membahas tentang topik-topik seputar dunia buku dan kepenulisan, saya sendiri masuk ke dalam kelompok yang bahasannya kurang saya kuasai dengan baik 😐 , yaitu mengenai tulisan fiksi dan non-fiksi serta ide dan trend nya saat ini. Untungnya di akhir sesi FGD masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan kembali hasil diskusinya, dan ada kelompok yang khusus membahas mengenai buku digital dan perkembangannya di Indonesia. Menurut kelompok tersebut buku digital bukan kompetitor buku cetak, karena masing-masing format buku punya posisi yang berbeda di hati penggunanya.

Di sesi akhir acara saya berkesempatan untuk duduk di samping orang yang sangat inspiratif bagi saya pribadi, yaitu sesosok pemuda bernama Dimas P Muharam. Beliau adalah seorang sarjana sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia yang aktif di dunia penulisan digital atau lebih dikenal dengan blog.

Sudah coba klik link terakhir di atas? Ya.. Anda benar, itu adalah link portal kartunet.com , sebuah media dari sahabat-sahabat kita penyandang tunanetra. Dan juga benar, Dimas adalah co-founder dari kartunet yang juga berarti beliau adalah seorang sarjana sastra dari universitas nomor satu di Indonesia dengan segala keterbatasannya sebagai penyandang tunanetra. Itulah mengapa saya bilang di awal paragraf sebelumnya bahwa beliau adalah sosok inspiratif buat saya. Secara diam-diam, sesaat setelah saya lihat ada dua orang tunanetra (Dimas dan temannya) yang hadir di forum buku dan kepenulisan ini, saya langsung terinspirasi oleh semangat dan konsistensinya dalam berbagi manfaat kepada orang lain tanpa terhambat oleh kondisi khusus yang diberikan Allah SWT kepadanya, “subhanallah” hanya itu kata yang pas untuk menggambarkan Dimas dan teman-temannya di kartunet.com.

Sekian reportase acara seminar dan FGD “Manfaat Buku Digital bagi Penulis dan Pembaca” yang terselenggara dengan baik oleh Qbaca dan FLP, semoga ada manfaatnya., salam. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *