Global Peace Volunteer Camp (bagian 3)

Setelah sebelumnya saya sukses (ceilee..) menulis reportase keikutsertaan saya pada acara GPVC di sini (bagian 1) dan di sini (bagian 2), saya akan mencoba melanjutkan menceritakan apa yang saya dapatkan di acara tersebut.

hhmmm, sebetulnya ada yang terlupa dan belum saya ceritakan di tulisan bagian kedua yaitu sebelum materi disampaikan oleh dr Teh kami semua diarahkan oleh panitia acara untuk melakukan perkenalan lebih lanjut antar sesama peserta workshop dengan melakukan permainan yang cukup menarik, berikut gambarnya (diambil dari album foto FaceBook grup Global Peace Volunteer):

dalam permainan ini peserta dibagi dalam kedua kelompok dan diminta duduk berseberangan dan dibatasi oleh selembar kain hitam, tugasnya adalah tiap kelompok harus memilih satu orang untuk berada di depan kain, diusahakan kelompok seberang tidak mengetahui siapa utusan kelompok yang berada di masing-masing sisi, karena utusan kelompok tersebut harus menyebutkan secepat mungkin nama dari utusan kelompok lain sesaat setelah kain hitam diturunkan. Utusan kelompok yang kalah cepat menyebutkan nama harus ikut ke kelompok seberang, dan kelompok yang paling banyak mengambil utusan kelompok lawan lah yang menang.

kejadian paling lucu pada saat permainan ini adalah di saat masing-masing kelompok secara kebetulan memilih utusan yang benar-benar belum saling kenal sebelumnya, dan baru hari itu kenalan.. jadi ketika kain diturunkan kedua utusan tidak ada yang bisa menyebutkan nama lawan dengan cepat tapi hanya saling menunjuk dan saling melotot sambil nepok-nepok jidat sendiri berharap keajaiban datang dari otak mereka karena belum saling hafal namanya (lmao)

Setelah permainan ini baru lah dr. Teh menyampaikan materi yang isinya sudah saya paparkan di tulisan sebelumnya (duh, nulis kok gak urutan begini (doh)). Nah setelah materi dari dr. Teh kami peserta disuguhkan tontonan film pendek yang amat menyentuh hati, dan bagi saya sendiri ini merupakan tamparan kenyataan yang sangat positif dan inspiratif. Film ini menceritakan seorang bocah dari Kanada yang berusia 6 tahun yang dengan gigih berjuang mengumpulkan uang untuk kegiatan sosial yang datang dari lubuk hatinya yang paling dalam, yaitu pengadaan air bersih untuk saudara-saudara kita yang kurang beruntung di benua Afrika, yang banyak menjadi sakit atau bahkan meninggal karena sangat kekurangan air bersih. Bocah yang bernama Ryan ini secara otomatis tergerak hatinya setelah mendengar penjelasan guru di sekolahnya yang bercerita tentang kurang beruntungnya orang-orang yang tinggal di wilayah benua Afrika karena tidak memiliki akses air bersih yang cukup, mereka harus berjalan rata-rata 25Km untuk mencapai sumber air, dan ternyata airnya pun belum layak untuk dikonsumsi karena berwarna coklat bercampur dengan tanah.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat sendiri video motivasional yang membuat saya merasa tertampar berulang kali setiap menontonnya, dan semakin bersemngat untuk membuat perubahan di negeri tercinta ini, silahkan disimak:

httpv://www.youtube.com/watch?v=fWk2_LZ1zFM

Setelah menonton video tersebut peserta workshop dibagi dalam 4 kelompok masing-masing terdiri dari 5 orang, kelompok-kelompok ini diminta menganalisa, bagaimana mungkin seorang bocah berusia 6 tahun pada saat itu bisa mengumpulkan uang hingga $45.000 untuk membangun sebuah pompa air bersih di wilayah benua afrika, tepatnya di negara Uganda. Berikut foto hasil dari diskusi tiap kelompok:

setelah masing-masing kelompok memperesentasikan hasil diskusi, kembali kami mendapatkan materi, kali ini pembicaranya adalah James Poon, yang merupakan seorang aktivis dari GPFF, beliau memberikan materi mengenai bagaimana mempersiapkan keluarga yang bisa menghasilkan generasi penerus yang tidak hanya berkepala besar, tapi juga berhati besar. James mengatakan bahwa kita manusia diberikan 100% kebebasan oleh Allah SWT supaya kita juga bisa 100% bertanggung jawab atas semua yang telah kita lakukan. Pada sesi ini James menjelaskan mengenai apa itu True Love, menurutnya cinta yang sebenarnya bersifat otomatis dan tidak dikondisikan dalam arti tindak-tanduk baik kita yang secara spontan lah yang menggambarkan seberapa besar rasa cinta kita terhadap sesama.

Masih menurut James, bahwa ada dua jenis cinta yaitu shared love dan private love. Contoh dari shared love adalah cinta orang tua kepada anak-anaknya yang terbagi secara adil tanpa berat di salah satu anak, ataupun berupa cinta kita terhadap saudara-ssaudara kita dalam keluarga, intinya cinta jenis ini bisa kita bagi tanpa ada orang yang akan tersakiti. Berbeda dengan private love yaitu cinta yang merupakan hanya ditujukan pada satu orang tertentu, ini yang harus dimiliki oleh pasangan suami-istri, cinta jenis ini bila kita coba membaginya maka akan ada yang tersakiti dan bila ini menimpa sebuah keluarga yang sudah memiliki anak, maka anak lah yang akan menjadi korbannya yang ujung-ujungnya akan membentuk pribadi manusia yang kurang baik karena pada proses perkembangannya kurang mendapat perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya yang sibuk bertikai akibat menyalahgunakan private love yang seharusnya mereka jaga baik-baik.

Saya sungguh mendapat pelajaran yang baru di sesi ini, karena James juga menjelaskan bagaimana seharusnya para pemuda bertanggung jawab menjaga cinta di dalam hatinya, bagaimana pentingnya sebuah pernikahan sebagai gerbang untuk menjaga dan mempertahankan private love sebagaimana mestinya, dan pentingnya pernikahan dalam menyatukan tidak hanya dua individu tapi dua keluarga yang ada di belakang individu-individu tersebut, yang berarti proses pernikahan merupakan salah satu unsur penting menjaga persatuan dan kesatuan 2 keluarga yang sebelumnya bahkan belum saling kenal menjadi sebuah keluarga besar yang bila dengan benar akan menjadi fondasi bagi majunya sebuah lingkungan atau bahkan sebuah bangsa dan negara. bersambung ke bagian 4 (semoga merupakan bagian terakhir) (goodluck)

2 thoughts on “Global Peace Volunteer Camp (bagian 3)

  1. subhanallah…ryan inspiring pisan (applause)

    TFS ya, Don..keren GPV nya..semoga berhasil mengimplementasikan utk membuat perubahan.
    *nunggu lagi lanjutannya* (music)

Leave a Reply