Skip to content

Ramadoni.com

Web, Photography, and Ramadoni's Life Journal

Archive

Category: Opini

melintas di ambang batas sepi penuh duri selengkapnya...

Sudah hampir sebulan tidak ada penambahan postingan di blog ini..hehehe… selengkapnya...

Ada baiknya sebelum membaca tulisan ini, terlebih dulu membaca 3 tulisan terkait sebelumnya:

Acara dilanjutkan dengan bermain drama, yang dipersembahkan oleh masing-masing kelompok peserta camp ini. Temanya pun sesuai dengan materi yang sudah diberikan sebelumnya oleh para pembicara. Kebetulan kelompok saya (a.k.a Five Minutes) mendapatkan tema interfaith, “wah sulit sekali ini temanya”,  karena memang tema ini begitu sensitif dan pada kenyataannya ini lah (perselisihan agama) yang sering memicu peperangan besar di muka bumi. Kelompok kami yang anggotanya juga tidak memiliki keyakinan yang sama cukup merasa kesulitan dalam memilih cerita yang bagaimana yang dapat menggambarkan kerukunan antarumat beragama yang membawa kedamaian karena memang sulit kita temukan pada kehidupan sebenarnya.

Akhirnya kelompok memutuskan untuk membawakan cerita mengenai seorang manusia yang sedang terhimpit masalah berat yang kemudian memutuskan pindah ke agama lain karena ia tidak menemukan pemecahan masalah hidup di dalam agama yang sebelumnya (sengaja tidak diidentifikasi agama apa yang dianut sebelum dan sesudahnya), kemudian orang tersebut ditolak oleh keluarganya karena sudah pindah ke agama lain, teman-temannya pun ikut menjauh, dan yang paling tragis adalah teman-teman di agama barunya pun ikut menjauhi karena mereka menilai si X ini tidak memiliki niat yang tulus untuk pindah agama dan pasti memiliki tujuan untuk merusak citra agamanya yang baru. Lalu si X ini akhirnya pergi jauh dari lingkungannya semula.

Tak lama kepergiannya dari tempat asalnya, ternyata si X menjadi orang yang sukses dan bergelimang harta namun sayang tiba-tiba ia mendengar tempat kelaiharannya terkena bencana alam yang dahsyat dan banyak korban berjatuhan, seketika ia teringat akan keluarga dan teman-temannya dahulu dan hebatnya ia samasekali telah lama mengubur dalam-dalam perasaan sakit hati ketika dulu ia ditolak oleh orang-orang di sekitarnya. X pun segera menuju tanah kelahirannya dengan membawa semua bala bantuan yang sanggup ia kerahkan untuk menolong orang-orang yang dahulu pernah menyakitinya ketika ia berpindah agama. Melihat hal itu orang-orang di tanah kelahirannya tersadar bahwa perlakuan mereka dulu salah, dan ternyata X benar-benar orang yang tulus dan bahkan tanpa melihat perbedaan agama ketika ia menolong orang-orang tersebut, akhirnya X kembali diterima di tanah kelahirannya, dan membawa pelajaran penting bagi orang lain yaitu perbedaan agama bukanlah pembatas bagi orang yang ingin sama-sama hidup damai dan saling bantu dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Berikut foto-foto ketika drama tersebut dimainkan (goodluck)

continue reading…

Setelah sebelumnya saya sukses (ceilee..) menulis reportase keikutsertaan saya pada acara GPVC di sini (bagian 1) dan di sini (bagian 2), saya akan mencoba melanjutkan menceritakan apa yang saya dapatkan di acara tersebut.

hhmmm, sebetulnya ada yang terlupa dan belum saya ceritakan di tulisan bagian kedua yaitu sebelum materi disampaikan oleh dr Teh kami semua diarahkan oleh panitia acara untuk melakukan perkenalan lebih lanjut antar sesama peserta workshop dengan melakukan permainan yang cukup menarik, berikut gambarnya (diambil dari album foto FaceBook grup Global Peace Volunteer):

dalam permainan ini peserta dibagi dalam kedua kelompok dan diminta duduk berseberangan dan dibatasi oleh selembar kain hitam, tugasnya adalah tiap kelompok harus memilih satu orang untuk berada di depan kain, diusahakan kelompok seberang tidak mengetahui siapa utusan kelompok yang berada di masing-masing sisi, karena utusan kelompok tersebut harus menyebutkan secepat mungkin nama dari utusan kelompok lain sesaat setelah kain hitam diturunkan. Utusan kelompok yang kalah cepat menyebutkan nama harus ikut ke kelompok seberang, dan kelompok yang paling banyak mengambil utusan kelompok lawan lah yang menang.

continue reading…

Bila di tulisan bagian pertama saya menceritakan background acara ini, maka pada tulisan kedua ini saya akan mencoba menceritakan apa yang saya alami dan saya rasakan di kegiatan ini.

Berawal di pagi hari dimana Tim YEP! rencananya akan dijemput oleh pihak GPFF di wilayah Blok M tepatnya di dekat pangkalan bus DAMRI pada pukul 07.30 pagi. “Sungguh pagi” ucap saya dalam hati, oleh karena itu saya berangkat dari rumah pukul 6 pagi menggunakan angkot menuju ke Blok-M. Di tengah perjalanan saya mengontak Aldo yang kebetulan sama-sama berangkat dari wilayah Depok menuju Blok-M, kemudian secara tidak sengaja saya akhirnya bertemu Aldo di dalam metromini bernomor 75 yang memiliki trayek Pasar minggu – Blok M, melihat kondisi jalan di Pasar Minggu yang luar biasa semrawut ditambah “hobi” sang supir ngetem membuat kami cukup stress mengingat Jam tangan kami sama-sama menunjukkan pukul 6.45  “hadeuh, telat deh ini, ditinggal deh, gak jadi deh ikut workshop” racau saya dalam hati sembari bola mata saya bolak-balik ngeliatin Supir yang ngeselin dan jarum jam tangan yang seolah berkejaran dengan degup jantung yang mulai resah.

Akhirnya Alhamdulillah kami tiba di Blok M, tepatnya di depan SMAN 6 Jakarta pukul 7.30 “yeahh, gak jadi terlambat” ungkap hati ini dengan senang sekaligus ngos-ngosan karena sedikit jalan cepat dari terminal Blok-M ke lokasi meeting point yang sebelumnya telah disepakati. Sudah ada beberapa teman di lokasi pertemuan ini, yaitu Ade, Ria, Kiki, Tya, Weni, Wulan, Anggun dan Andry lalu tidak lama berselang seorang teman kami akhirnya tiba juga yaitu Ricky.

continue reading…

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes