Tulisan kali ini memberikan sebuah contoh kasus yang kemudian akan menggambarkan bagaimana seorang perawat membuat sebuah rencana asuhan keperawatan untuk menangani kasus tersebut.
Kasus:
Ny.G, seorang wanita berusia 75 tahun, masuk di unit bedah dari ruang pemulihan setelah pemasangan pen pada pinggulnya. Riwayatnya menunjukkan bahwa Ny.G tinggal sendirian di sebuah apartemen. Suaminya meninggal 10 tahun lalu, Ny.G mempunyai banyak teman dan terlibat dalam kegiatan komunitas lansia. Beliau suka jalan-jalan dan naik sepeda. Kali ini dia masuk RS karena jatuh dari sepeda. Program medis pascaoperasi untuk Ny.G adalah sebagai berikut.
- Kateter Foley untuk drainase berat jenis
- D52% NaCl dengan KCl 20 mEq untuk diinfuskan selama 8 jam
- Morfin sulfat 1-2 mg, bolus IV, setiap 15 menit sampai nyaman, maksimum 10 mg dalam 1 jam.
- Morfin sulfat 6-8 mg, IM setiap 3-4 jam, bila nyeri.
- Phenergan 25 mg IM setiap 4-6 jam, bila mual.
- Darah perifer lengkap (DPL) dan elektrolit besok pagi.
- Trapeze di atas kepala tempat tidur.
- Balikkan klien ke sisi tubuh yang tidak sakit setiap 1-2 jam.
- Matras pengurang tekanan diletakkan di atas tempat tidur untuk mengurangi tekanan pada daerah penonjolan tulang.
- Ambulasi klien dengan bantuan pada pagi hari dan kemudian empat kali sehari.
Pengkajian
Pukul 16.00 – pengkajian awal yang dilakukan oleh perawat setelah klien kembali dari ruang pemulihan menunjukkan bahwa klien tidur dengan nyaman, tanda vital dalam batas normal, dan balutan operasi kering dan utuh, Keteter Foley mengeluarkan urine berawarna kuning. Tetesan infuse sesuai dengan jumlah yang diresepkan; kulit hangat dan kering.
continue reading…