Bukan Kosongkan Gelas Tapi Gunakan Gelas Baru Yang Kosong

Saya pertama kali mendengar istilah “kosongkan gelas” ini semenjak saya kuliah beberapa tahun lalu. Saat itu yang saya tangkap dari istilah ini adalah bahwa kita harus selalu mengosongkan isi kepala kita saat setiap kali berada dalam sebuah kelas, seminar, atau kondisi apapun yang intinya kita sedang melakukan proses pembelajaran. Mengosongkan kepala ini seringkali diartikan sebagai keadaan di mana kita harus berlaku sebagai orang yang tidak mengetahui apa-apa dan siap menampung semua informasi yang masuk dari pengajar, termasuk cara pengajar mengintepretasikan informasi yang dia terima.

Beberapa tahun saya benar-benar melakukan “kosongkan gelas” ini, dan yang saya rasakan adalah diri saya kok terasa makin ke sini makin tidak giat untuk berpikir, makin tidak mahir dalam menghubungkan informasi-informasi yang bertebaran menjadi sebuah pemahaman baru mengenai fenomena atau kejadian tertentu. Dengan “kosongkan gelas” ini saya cenderung tidak bisa melakukan filtrasi kepada informasi-informasi baru yang masuk dan tidak bisa pula membandingkannya denganĀ informasi-informasi yang telah hadir lebih dahulu di benak saya.

Bukan Kosongkan Gelas Tapi Gunakan Gelas Baru Yang Kosong

Bukan Kosongkan Gelas Tapi Gunakan Gelas Baru Yang Kosong

Pendek kata, istilah “kosongkan gelas” ini secara perlahan namun pasti mengebiri kemampuan saya dalam berpikir dan mengolah informasi dengan baik.

Setelahnya saya mencoba mencari konsep yang tepat dalam melakukan proses pembelajaran, yang bisa saya gunakan di bidang apapun yang ingin saya pelajari. Pencarian saya tentang konsep ini akhirnya sampai lah dengan istilah baru yang saya coba ciptakan sendiri yaitu “Gelas Baru Yang Kosong”.

Apa itu “Gelas Baru Yang Kosong: ? yaitu kondisi di mana kita siap menerima informasi baru dalam sebuah proses pembelajaran dengan tidak membuang isi “gelas” kita yang lama, namun tetap menyimpannya diĀ lokasi yang berbeda namun tidak jauh dan diusahakan tidak bersentuhan langsung dulu dengan informasi yang baru. Fungsinya adalah agar ketika informasi baru sudah masuk dengan rapih ke dalam kepala, kita bisa segera mencocokkannya dengan informasi lama yang kita punya. Dengan begitu ada proses validasi yang berjalan di dalam kepala kita, dan proses validasi inilah yang akan menjaga otak kita untuk terus berpikir dan waspada untuk tidak menelan bulat-bulat informasi yang masuk.

Jadi menurut saya, istilah “kosongkan gelas” ini kurang cocok digunakan bila tujuan kita ingin mencetak insinyur-insinyur peradaban dengan karakter pemimpin yang gemar berpikir untuk kebaikan ummat. Pemimpin yang gemar berpikir untuk kebaikan hanya bisa diperoleh dari orang yang tidak mengosongkan gelasnya, tapi menyimpan gelas lama yang sudah penuh, lalu mengambil gelas kosong yang baru untuk kemudian diisi lagi sampai penuh sehingga iya memiliki banyak gelas yang berisi penuh dengan ilmu dan bisa menempatkannya sesuai dengan kondisi kebutuhannya.

Bingung? sama, saya juga agak bingung setelah membaca tulisan di atas berkali-kali.

Tapi seharusnya Anda bersyukur bila merasa bingung, karena itulah tanda bahwa Anda adalah seorang pembaca yang gemar berpikir, memikirkan isi tulisan yang sedang Anda baca ini.

Selamat berpikir…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *