Bekasi kemudian Depok, lalu selanjutnya??? (bagian 1)

Inilah sedikit cerita pengalaman hidup saya selama kurang lebih dua puluh tahun ini….

terlahir di kota metropolitan Jakarta tepatnya di daerah kemayoran, pada tanggal 14 April 1989. tidak lama berselang dari kelahiran saya diboyong oleh Ayah dan Ibu ke sebuah kota urban yang banyak dari warganya merupakan pekerja di kantor-kantor maupun toko-toko di Jakarta, yah itulah kota saya dibesarkan hingga berusia 18 tahun, Bekasi.

logo-bekasi-2

Bekasi sebagai salah satu kota satelit selain Tangerang dan Depok memiliki segudang cerita yang mengisi kehidupan saya, dimulai dari masa kecil dimana seorang ramadoni dibesarkan oleh kedua orang tuanya yang hingga berusia 5 tahun memiliki tingkat egoisme yang tinggi (masih sendirian dan belum memiliki saudara di keluarga kecilnya) baru setelah berusia 5 tahun, lahirlah sang adik, safira yang membuatnya belajar untuk berbagi.

Di kota inilah ramadoni tumbuh dari seorang anak yang menggemaskan (katanya) menjadi seorang remaja yang memiliki sejuta asa dalam perkembangan kehidupannya. ramadoni kecil dikenal sebagai anak dengan suara tawa yang besar di sekolah dasarnya SDN Pekayon Poncol, juga dikenal sebagai pemimpin upacara yang selalu memiliki nilai tertinggi dalam mata pelajaran IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris (plis jangan ada yang nanyain nilai IPS-nya). Di sekolah dasar inilah ramadoni sempat membuat ibunya masuk RS karena pihak sekolah melarang ramadoni untuk mengikuti Ebtanas (sekarang namanya Ujian Nasional), sekolah menganggap ramadoni yang pada saat itu berusia 9 tahun masih terlalu muda untuk mengikuti Ebtanas dan khawatir akan tertinggal kemampuan belajarnya bila dipaksakan masuk ke tingkat SLTP.

Sang Ibu sempat shock karena masalah ini, namun ternyata kekuatan seorang Ibu jauh dari yang pernah kita bayangkan sebelumnya, dengan hanya 1 minggu di RS (kalo gak salah diagnosis mediknya terkena typhus) sang Ibunda mengajak ramadoni ke PDK (sekarang Dinas Pendidikan) pusat Jawa Barat yang berada di Bandung untuk memastikan dan menunjukkan bahwa seorang anak bernama ramadoni mampu dan pantas mengikuti Ebtanas SD di usianya yang ke-9 tahun, di Bandung ramadoni dites oleh pihak PDK Jawa Barat dengan diminta mengerjakan soal-soal Ebtanas tahun-tahun sebelumnya dan akhirnya dinyatakan patut dan mampu mengikuti Ebtanasnya di tahun ini.

Singkat cerita, ramadoni telah menyelesaikan Ebtanas dengan baik dan mendapat nilai tertinggi di sekolahnya. Berlanjut ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu SLTP, seorang ramadoni memasuki sekolah yang jaraknya tidak jauh dari rumah tempatnya tinggal bersama keluarga yaitu SLTP Negeri 12 Bekasi, yang berjarak sekitar 1 Km dari rumahnya. Di sekolah ini ramadoni untuk pertama kalinya merasakan sebuah perasaan yang berbeda terhadap lawan jenisnya, kalo kata orang mah “cinta monyet”, hehehe… di sekolah ini pun image yang beredar mengenai ramadoni belum berbeda jauh, yaitu seorang siswa dengan suara tawa menggelegar namun kali ini ditambah sering mengikuti lomba-lomba akademis tingkat Bekasi dan pernah sekali mewakili Kota Bekasi di tingkat Jawa Barat dalam bidang IPA, namun sayang belum berhasil.

di akhir masa sekolahnya di SLTP ini pun ramadoni sempat mengukir prestasi dengan pencapaian nilai NEM tertinggi se SLTPN 12 Bekasi disusul beberapa teman dekatnya yaitu Isnurdiansyah dan Fitri yang menempel ketat baik dalam nilai sehari-hari di sekolah maupun di Ebtanas SLTP ini. Selama di SLTPN 12 Bekasi ini ramadoni mengikuti beberapa ekstrakulikuler seperti Pramuka dan Taekwondo.
Technorati Profile

11 thoughts on “Bekasi kemudian Depok, lalu selanjutnya??? (bagian 1)

  1. Bagus, Don!!
    Gue jadi berpikir u melakukan hal yg sama.

    Bikin versi yg lebih detailnya dengan lebih banyak foto referensi dong!!:)

    Gue tunggu ya..

    • bagian keduanya udah ada, tapi ya gitu, kekurangan foto2 referensi.. dan tampaknya masih perlu latihan lagi untuk menuliskan sampai detil… ini masih latihan brur… =) anyways thx for your respond…

  2. (bringit) don, lw harus bayar royalty ke gw tuh coz ada nama gw di situ… jadi ke publish dech… tanggung jawab, don…(haha)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *